Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juli 2011

Kliping Massal KOINSASTRA

Dari : http://gdsuhendra.blogspot.com

Kliping Massal Koinsastra PDS HB Jassin


Artis pendukung acara Koinsastra


Ahmad Makki - Inisiator


Para inisiator (ki-ka): Putu Fajar Archana & Khrisna Pabichara


Jakarta (21/5) - Wah agak telat neh update lagi blog gw....Waktu itu weekend gw free...ga ada kegiatan...jd gw iseng lah dateng menyempatkan diri ke acara pagelaran seni pada program Koinsastra yang di inisiasi oleh Putu Fajar Archana (editor Kompas Minggu), Khrisnapabichara (pelaku sastra), Ahmad Makki (aktivis) dan beberapa teman lain nya bertempat di Gedung PDS HB Jasin di Taman Ismail Marzuki. Via Twitter (social media) program ini bisa menjadi besar dan menjadi program yang banyak mendapatkan dukungan dari masyarakat luas...selain acara pagelaran seni, kegiatan ini diisi dengan acara kliping massal yang pesertanya dari berbagai kalangan baik tua maupun muda yang peduli akan keberadaan PDS HB Jasin ini sebagai pusat dokumentasi sastra di Indonesia....hhmmmm gw menemukan suasana baru dan banyak teman baru disini....


Salut buat para inisiator yag berhasil membawa program ini menjadi bentuk kepedulian baru bagi masyarakat terhadap keberlangsungan jati diri bangsa yaitu SASTRA

Jumat, 27 Mei 2011

"Aku Penyelamat Peradaban"

Ditulis oleh: Wahyu Adi Putra...
Tanggal: 27 Mei 2011




Jumat pagi, 21 Mei 2011, saya tiba di Gedung Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tujuan saya: mengikuti sebuah pelatihan penggunaan alat-bantu terjemahan yang diadakan oleh Himpunan Penerjemah Indonesia. Di sela rehat pelatihan, saya bertemu dan bercakap-cakap dengan salah seorang relawan Koin Sastra yang sedang istirahat di ‘Tangga Biru’, dekat pintu masuk ke gedung PDS HB Jassin. Dalam percakapan tersebut, setelah berbincang sedikit tentang kemajuan program Koin Sastra, saya memperkenalkan diri sebagai salah satu anggota redaksi MediaSastra.com. Mendengar hal itu, teman bicara saya langsung memberitahu bahwa esok harinya, Sabtu, 22 Mei 2011, pukul 10:00 wib di PDS HB Jassin akan dibuat satu acara bertajuk Kliping Massal. Saya yang semula berencana kembali ke Yogyakarta pada Sabtu pagi pun langsung mengubah jadwal kepulangan saya demi meliput acara ini.
 Sabtu pagi di Taman Ismail Marzuki, saya tiba agak telat. Waktu sudah menunjukkan pukul 10:45 wib. Saya bergegas menuju halaman PDS HB Jassin. Sudah ada tenda terpasang. Satu untuk para hadirin acara, dan satu lagi untuk panggung. Banyak orang sudah di sana. Rata-rata mereka mengenakan kaos dengan tulisan mencolok: “Aku Penyelamat Peradaban”. Saya ketahui kemudian, “Aku Penyelamat Peradaban” adalah judul-sanding dari acara ‘Kliping Massal’ ini. Tidak lama setelah berbaur dengan para hadirin lain, acara ‘Kliping Massal’ pun di mulai. Hujan deras berhawa panas khas kota Jakarta sempat mengiringi berlangsungnya acara ini. Para peserta yang semula tersebar di sekeliling tenda pun berebutan berlindung di bawah tenda hadirin. Sesak memang. Tapi, seperti celetukan salah seorang peserta yang tertangkap telinga saya di antara himpit-himpitan manusia di bawah tenda itu, “Acaranya jadi romantis.”
***
Menurut pengakuan Ahmad Makki, Koordinator Acara ‘Kliping Massal’, yang juga salah seorang penggagas Koin Sastra, acara ini adalah sebuah ajang yang digagas Koin Sastra dan PDS HB Jassin untuk melibatkan lebih banyak lagi masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan di PDS HB Jassin.
“Kita melakukan ini (pengklipingan – red.) secara reguler sebetulnya. Dengan, ya, lima sampai sepuluh orang setiap hari. Dari mulai Senin sampai Sabtu kita melakukan itu – dan sudah banyak membantu PDS HB Jassin. Tapi, kita pikir kita perlu memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang,” tukas Ahmad Makki.
Saya melihat orang-orang yang ikut mendaftarkan diri menjadi peserta dalam ajang ini beragam latar-belakangnya. Dari orang dewasa sampai anak seusia sekolah dasar pun tampak bersemangat mencantumkan nama mereka untuk menjadi peserta kliping. Jumlah pesertanya juga terbilang banyak. Menurut Ahmad Makki, sampai tengah hari jumlah peserta kliping sudah menembus angka 190.
Saya ikut rombongan peserta kliping kloter kedua. Pengklipingan memang dilakukan dengan jumlah peserta yang dibagi-bagi dalam beberapa kloter. Tidak mungkin dilakukan sekaligus karena luas ruangan PDS HB Jassin yang terbatas. Peserta kliping kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok; masing-masing kelompok dipandu oleh seorang koordinator, yang bertugas menjelaskan dengan rinci tatacara pengklipingan naskah serta memantau pengklipingan yang dilakukan oleh peserta, yang kebanyakan memang awam dalam bidang pendokumentasian arsip itu. Naskah yang dikliping saat itu adalah artikel-artikel sastra yang dimuat di berbagai mediamassa yang terbit dalam rentang waktu dasawarsa 1990an. Ternyata mengkliping naskah sebagai dokumentasi itu tidak sesederhana yang saya bayangkan: ada beberapa prosedur baku yang harus dijalankan – mulai dari penandaan artikel, pencatatan data artikel yang hendak dikliping, pengguntingan, sampai penempelan. Biar begitu, semua peserta tampak asyik melakukan pekerjaannya.
Di sela-sela kegiatan kliping, Ahmad Makki menjelaskan pada saya bahwa ajang kali ini juga digunakan oleh salah satu penyedia layanan seluler, XL, untuk meluncurkan satu program ‘SMS Donasi’ untuk PDS HB Jassin.
 “Beruntung, saat ini kita dibantu, disponsori oleh XL, kebetulan, karena mereka juga ada program untuk meluncurkan ‘SMS Donasi’ ke PDS HB Jassin. Juga, rencananya ke depan ada program semacam e-book(sastra – red.) yang bisa didownload oleh para penggunanya,” ujar Ahmad Makki.
Ahmad Makki melanjutkan bahwa rencananya ada dua buku elektronik sastra yang nanti dapat diunduh oleh para pengguna layanan seluler itu: Aku ini Binatang Jalang karya Chairil Anwar dan Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia karya HB Jassin.
Selain itu, Koin Sastra, yang selama ini kita kenal lewat media jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter (dengan tagar #koinsastra), telah merencanakan beberapa program yang akan diselenggarakan bagi PDS HB Jassin. Salah satunya adalah program pendigitalan naskah-naskah yang disimpan di PDS HB Jassin. Program ini penting mengingat kondisi gedung PDS HB Jassin yang saat ini terbatas dalam hal ruang dan kapasitas untuk menjaga keawetan naskah koleksinya. Yang membedakan PDS HB Jassin dari banyak perpustakaan lainnya adalah bahwa koleksinya mencakup banyak naskah asli karya beberapa pengarang Indonesia yang masih berupa manuskrip tulisan tangan. Kita dapat menemukan naskah asli tulisan tangan novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang di pusat dokumentasi sastra ini. Juga, beberapa naskah tulisan tangan yang memuat puisi-puisi penyair besar Indonesia seperti Chairil Anwar dan WS Rendra.
Tambah lagi, Koin Sastra juga bercita-cita supaya PDS HB Jassin memiliki sebuah gedung baru. Seperti diungkapkan Ahmad Makki, “Kita juga merencanakan, kalau bisa, PDS HB Jassin harus punya tempat yang baru. Yang lebih layak, jauh lebih layak dari tempat ini, karena ini sudah sangat tidak layak. Kalau masuk ke dalam nanti, (Anda bisa lihat bahwa) sudah tidak ada rak yang bisa dimasukkan lagi karena sudah nggakada tempat sama sekali.”
Saat saya bertanya tentang pandangan Koin Sastra terhadap sikap pemerintah yang menelantarkan PDS HB Jassin, Ahmad Makki menjawab bahwa Koin Sastra memandang kedua-duanya masyarakat dan pemerintah punya andil dalam nasib yang dialami oleh PDS HB Jassin.
“Kita menolak segala bentuk pembiaran, sikap-sikap yang membiarkan kebudayaan-kebudayaan bangsa punah. Bagi kami (Koin Sastra – red.) tidak hanya PDS HB Jassin, banyak sekali aset-aset kebudayaan yang menjelang kepunahan. Pertama, kami mencatat bahwa sikap pembiaran ini tidak hanya dimiliki oleh pemerintah tapi masyarakat juga punya andil dalam hal ini. Kondisi PDS yang sepi, perpustakaan-perpustakaan lain yang sepi, ya, itu gambaran bahwa masyarakat juga punya andil kesalahan. Tapi, pemerintah kan juga punya tanggung jawab untuk membuat warganya merasa butuh sama buku, warganya cinta sama sastra,” tegas Ahmad Makki.
Sebab Koin Sastra menganggap bahwa PDS HB Jassin bukanlah satu-satunya aset kebudayaan yang menghadapi masalah, maka Koin Sastra juga menargetkan kegiatannya pada badan-badan kepustakaan lain yang berada di ambang mati-lemasnya
“Program ini insyaallah bukan program yang terakhir buat PDS HB Jassin dan insyaallah juga PDS bukan tempat terakhir yang akan kita dukung. Makanya, kita minta support dari masyarakat sebesar-besarnya,” simpul Ahmad Makki.
***
Sembari kegiatan pengklipingan berlangsung di dalam gedung, di halaman PDS HB Jassin isian acara-acara lain tetap berlanjut. Ada beberapa pertunjukan yang dapat dinikmati oleh para peserta yang sedang menunggu giliran mengkliping. Di antaranya, ada musikalisasi cerpen yang dibawakan oleh Djenar Mahesa Ayu, ditemani mantan vokalis grup musik “Drive”, Erdian Aji. Tampil juga Nanang Hape, seorang dalang dari Ponorogo, yang membawakan beberapa lagu bersama grup musiknya. Seperti lazimnya sebuah acara apresiasi sastra, ada juga pembacaan atau pendeklamasian puisi. Salah satu sastrawan yang tampil ke panggung adalah Sitok Srengege yang mendeklamasikan dua buah puisi dalam acara ini.
Beberapa orang lain yang kerap kita dengar namanya dalam dunia sastra Indonesia juga turut hadir. Di antara mereka yang saya kenali wajahnya, tampak Putu Fajar Arcana, Goenawan Mohamad, Nirwan Dewanto, Djenar Mahesa Ayu, dan Sitok Srengenge.
Kehadiran orang-orang sastra Indonesia dalam sebuah acara sastra Indonesia adalah sebuah kewajaran, dan bisa dibilang tidak istimewa. Namun acara Kliping Massal menjadi istimewa karena para pesertanya tidak datang dari satu ragam latar-belakang saja. Saya melihat seorang gadis cilik seusia SD dan para remaja SMA duduk berdamping-dampingan dengan orang-orang tua yang sudah putih rambutnya sambil tekun menggunting dan menempel naskah. Pemandangan ini membuat Kliping Massal di PDS HB Jassin pantas menyandang gelar ‘massal’; bukan cuma karena jumlah pesertanya yang ratusan tapi karena latar-belakang pesertanya yang beragam.
Kata aku dalam frasa “Aku Penyelamat Peradaban” yang menjadi judul-sanding acara ini jadi begitu bermakna bagi saya. Kata aku, meski dalam dirinya membawa makna ‘satu orang’, bila dilekatkan dalam diri orang banyak, akan membentuk suatu entitas masyarakat yang punya satu saujana: kesadaran bahwa sastra punya andil besar dalam suatu peradaban manusia. Kata aku inilah yang nanti akan menjadi kami; lalu, bila di dalam perjalanannya dihidupi oleh semua orang, tidak lagi mencipta mereka, tetapi kita. Sastra kita cintai karena ia kita lakukan dan kita hidupi.


Senin, 02 Mei 2011

#koinsastra Palu di Hari Buku Sedunia

Ditulis oleh: neni muhidin
Tanggal: 02 Mei 2011


Selama seminggu, sejak 16 April hingga 23 April 2011, diadakan rangkaian kegiatan bertajuk #koinsastra yang diprakarsai oleh Aliansi Gerakan Peduli Sastra (AGPS) Palu, Sulawesi Tengah. #koinsastra diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian AGPS Palu terhadap keberlanjutan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin yang berlokasi di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Seperti yang telah diberitakan oleh banyak media, keberlangsungan PDS BH. Jassin sempat terancam karena minimnya dana yang diberikan pemerintah daerahnya pada PDS ini. Sehubungan dengan itu, kegiatan tersebut berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp. 762.350,-. Selain bagi PDS HB. Jassin, melalui kegiatan itu ingin pula ditunjukan bahwa warga Palu memiliki kepedulian pada masa depan literasi nusantara.
Pada hari terakhir rangkaian #koinsastra, Sabtu, 23 April 2011, diadakan acara puncak di Taman Gor Palu. Sebab bertepatan, acara puncak dibarengkan dengan peringatan hari buku sedunia. Di acara puncak, selain pengumpulan donasi, diselenggarakan juga pameran buku, penjualan buku, serta diskusi buku Menggugat Kebudayaan Tadulako dan Tari Dero Poso karya Jamrin Abubakar, terbitan Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah. Zulkifli Pagessa, seorang sutradara teater, hadir sebagai pembahas dalam diskusi buku itu. Acara juga diisi dengan pembacaan sajak oleh penyair TS. Atjat. Ia membacakan tiga sajak dari buku kumpulan puisinya Soyo Lei (Semut Merah) dan Catatan Seorang Pejalan Kaki. Selain Atjat hadir pula penyair Nooral Baso yang membacakan puisi dari Soneta Comberan-nya.
Kegiatan #koinsastra dan peringatan hari buku sedunia oleh AGPS awalnya diinisiasi oleh NOMBACA, Palu Club Reader. Gayung bersambut, beberapa komunitas dan individu pegiat dan pemerhati seni budaya di Palu ikut bergabung. Tercatat kurang lebih 70 orang dari berbagai anasir ikut berpartisipasi sejak pembentukan aliansi hingga acara puncak.

Jumat, 15 April 2011

Konser Koin Sastra

Mentari Meida
Friday, April 15, 2011

Penampilan Sudjiwo Tedjo dan Soimah Pancawati

Dalang Edan diiringi Dewa Budjana dan Dwiki Dharmawan

Puncak acara dari Koin Sastra yang digelar untuk membantu PDS HB Jassin akan dilaksanakan minggu depan pada hari Rabu, 13 April 2011 pukul 19.30 di Bentara Budaya Jakarta. Sejumlah artis, penyair dan seniman akan turut menyemarakan acara ini. Diantaranya adalah Dewa Budjana, Ayu Laksmi, Soimah Pancawati, Sarasdewi, Ananda Sukarlan, Reda Gaudiamo, Djenar Maesa Ayu, Anji Drive, Gunawan Maryanto, Garin Nugroho, Sujiwo Tedjo dan Jose Rizal Manua.

Djenar Maesa Ayu membacakan cerpennya "Cat Hitam Berjari Enam"

Sambutan dari Ajip Rosidi, Ketua Dewan Pembina Yayasan PDS HB Jassin

Koin Sastra telah terselenggara dalam waktu hampir satu bulan belakangan ini dan diharapkan akan terus berjalan guna membantu PDS HB Jassin yang terancam tutup dikarenakan kurangnya anggaran dana yang diberikan Pemprov DKI Jakarta. Sampai saat ini Koin Sastra telah dilaksanakan oleh sejumlah mahasiswa dan kelompok masyarakat pecinta dan peduli seni, sastra dan budaya di Depok, Jakarta, Bali, Surabaya, Kendari, Bogor, Gorontalo, Semarang, Palembang, Malang, Bandung. Dan sejumlah kampus yang turut berperan aktif adalah Universitas Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Udayana Denpasar.

Feby Febiola feat. Mayong Suryo Laksono sebagai MC

Garin Nugroho berkolaborasi dengan Reda Gaudiamo & Ari Malibu

Khrisna Pabichara, Ketua penggagas gerakan Koin Sastra di Jakarta sangat aktif mengabarkan mengenai Koin Sastra dan PDS HB Jassin melalui blog, Facebook, maupun Twitter-nya. Mengajak teman-teman mahasiswa, penyair, sastrawan dan dari kalangan mana pun untuk ikut peduli terhadap keberlangsungan PDS HB Jassin. Koin Sastra tidak semata-mata mengumpulkan dana untuk membantu menyambung hidup perpustakaan yang memiliki koleksi naskah dan buku terlengkap di Asia tersebut, namun Koin Sastra juga membentuk beberapa program. Tim penggagas Koin Sastra bekerja sama dengan kurang lebih 100 orang relawan untuk menditigalisasikan naskah-naskah di PDS HB Jassin. Berita terakhir yang saya sendiri dapat melalui Facebook-nya, Mas Khrisna mengatakan bahwa sudah terkumpul tujuh unit komputer, empat unit scanner dan duaprinter hasil sumbangan dari para relawan. Total donasi dalam bentuk uang dan peralatan yang telah diterima Pengurus PDS HB Jassin jika dirupiahkan Rp 157.763.300. Pagi ini, masih juga pada Facebook-nya Mas Khrisna saya mendapat kabar bahwa penggalangan dana Koin Sastra yang digelar oleh Seniman dan Pengamen Senen di Pasar Senen kemarin siang berhasil terkumpul uang sebesar Rp. 401.000.

Cok Sawitri, Ayu Laksmi & I Wayan Sura

Jose Rizal Manua

Dalam konser Koin Sastra yang akan berlangsung minggu depan, masih sangat diharapkan kontribusi dari berbagai pihak untuk membantu dan mendukung gerakan Koin Sastra ini demi keberlangsungan PDS HB Jassin. Silahkan datang ke Bentara Budaya Jakarta untuk menyaksikan acara ini. Tidak dipungut bayaran bagi setiap orang yang datang, namun dengan takzim Koin Sastra masih menunggu uluran tangan anda untuk memberikan donasi seikhlasnya. Bantuan juga bisa melalui rekening BCA 7770817564 & rekening Mandiri 131-00-0971505 atas nama Zeventina Octaviani. 

Penampilan Saras Dewi dengan suami menyanyikan "Kupu-kupu Barong"

Sumbangkan "koin" anda untuk menunjukan kepedulian terhadap sastra dan budaya kita. Tak akan genap nilai jutaan rupiah jika kehilangan sebuah koin dalam bagiannya.


Minggu, 20 Maret 2011

Gerakan Koin Sastra untuk Selamatkan PDS HB Jassin Menguak Muka Bopeng Kebudayaan Nasional



20 March 2011 | 14:29

Negara yang berbudayaan selalu menghargai pengetahuan dan karya sastra. Semakin tinggi kebudayaan suatu bangsa tentu semakin tinggi derajat kemanusiaannya dan tentu semakin menghargai arti penting sebuah karya. Terlebih karya pengetahuan dan sastra yang memuat unsur keindahan sebagai cermin kehalusan sebuah masyarakat. Membicarakan hal ini sejenak terlintas tentang film berjudul Agora yang dibintangi aktris cakep Rachel Weisz tentang kisah hidup filsuf perempuan Hypathia seorang sarjana Alexandria Yunani. Tergambar sebuah kisah cinta yang indah serta keberanian seorang Hypathia yang mencintai pengetahuan dan sastra. Hypathia menyelamatkan koleksi perpustakaan dan buku-buku serta kecintaannya yang mendalam pada pengetahuan memberikan impresi yang indah bagi pecinta pengetahuan dan manusia-manusia yang menggandrungi semangat pencerahan. Seorang penulis sejarah Socrates Scholasticus menjelaskan Hypathia sebagai seorang wanita yang bijaksana dan dihormati di Alexandria, ia seorang putri dari filsuf Theon yang mengembangkan sastra dan ilmu pengetahuan. Apa yang dilakukannya membuat semua orang mengaguminya berdasarkan pada martabat luar biasa dan kebajikan. Ia yang menyelamatkan koleksi dengan nyawanya.

Apa yang hendak disampaikan disini bukan berniat untuk terlalu jauh menarik sebuah persoalan namun sebagai upaya untuk mencoba membawa persoalan dalam mencari kejernihan atas persoalan itu. Permenungan menjadi upaya untuk mencari kejernihan seperti itu. Sebagaimana apa yang disampaikan oleh filsuf besar Yunani Socrates bahwa hidup yang tidak ditinjau ulang tidak pantas untuk dihidupi. Gambaran apa yang ada dalam film yang menceritakan kisah perjalanan Hypathia dalam melindungi koleksi perpustakaan karena kecintaannya pada sastra dan pengetahuan itu tiba-tiba terlintas saat sekarang ramai kita dihadapkan pada persoalan yang hampir mirip meski tidak sama. Persoalan dimana pengetahuan dan sastra terpinggirkan dari kehidupan berkebudayaan nasional di Indonesia. Cerita Hypathia itu terlintas seiring munculnya gerakan yang dilakukan para para penggiat sastra di Indonesia yang membuat Gerakan Koin Untuk Menyelamatkan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.

Sebuah gerakan yang mencerminkan keberpihakan pencerahan dan nalar kritis. Hingga saat membayangkan gerakan yang dilakukan ini tiba-tiba saja terbayang wajah cantik Hypathia di film Agora. O, senyum Hypathia untuk para penyelamat pustaka.

Apa yang terjadi dibalik fenomena seperti ini? Berkurangnya perhatian pemerintah untuk perawatan hasil kebudayaan nasional semakin nampak jelas dalam terancam ditutupnya Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin akibat kekurangan biaya untuk operasional dan perawatan koleksi sastra disitu. Hal yang lebih pantas disebut sebagai muka bopeng kebudayaan nasional. Padahal kebudayaan seharusnya merupakan proses yang terus secara aktif dibangun (open ended) yang tentu menuntut biaya yang lebih besar bukan justru terpinggirkan.

Muka Bopeng Kebudayaan Nasional

Jelas di dalam Undang-Undang Dasar 1945 sebagai acuan bagi tata kehidupan bernegara dalam hal kebudayaan menempatkan kebudayaan sebagai perihal penting yang harus dimajukan oleh Negara (pemerintah) bukan sebaliknya menjadi tersingkir dari hal lain. Pada Pasal 32, UUD 45, sebelum diamandemen menjelaskan Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Pengertian kebudayaan nasional Indonesia ini, dijelaskan dalam penjelasan tentang Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yaitu kebudayaan bangsa. Kebudayaan bangsa dijelaskan adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi-daya rakyat Indonesia seluruhnya yaitu kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

Karya sebagai bagian dari upaya pembangunan kebudayaan nasional juga mendapatkan payung perlindungan. Tentu ini menjadi mandat bagi pemerintah baik Pemerintah Nasional maupun Pemerintah Daerah untuk -tanpa harus diingatkan- seyogyanya sudah memegang teguh usaha memajukan kebudayaan nasional. Tanpa harus disuruh sudah harus memperhatikan untuk mengalokasikan anggarannya guna pelestarian koleksi dan pengembangan fasilitas yang mendukung kerja kebudayaan. Namun kenyataan yang terjadi ternyata jauh panggang dari api. Ekspektasi itu ternyata tidak terjawab. Apa yang dibangun dan diusahakan pemerintah menjadi tidak mencerminkan pembangunan yang berorientasi pada kepentingan public (public centered development).

Pusat dokumentasi H.B. Jassin seharusnya dikembangkan lebih dengan dukungan pemerintah untuk lebih memperhatikan perkembangan sastra dan kebudayaan nasional lebih maju serta berkembangnya ruang publik. Koleksi sastra Indonesia modern banyak disimpan di pusat dokumentasi tersebut. Dari berbagai macam karya sastra modern yang terdokumentasikan disitu jelas merupakan kekayaan publik terkait karya sastra. Minimnya subsidi biaya pemerintah untuk PDS HB Jassin menunjukkan kurangnya penghargaan pemerintah terhadap karya anak bangsa. Aset nasional untuk memelihara eksistensi budaya nasional terancam gulung tikar menjadi cermin yang menunjukkan gambar muka bopeng dari kebudayaan nasional di Indonesia.

Bopeng-bopeng semakin banyak terlihat dan tentu lebih banyak lagi jika dibiarkan terus tumbuh. Bopeng kebudayaan juga Nampak pada minimnya ruang publik untuk diselenggarakannya aktivitas kreasi dan ekspresi budaya. Sementara berkaca pada perkembangan negara lain begitu memperhatikan ruang publik untuk laku kebudayaan masyarakatnya. Negara-negara yang maju mutu kemanusiaannya selalu tentu membangun ruang publik untuk ekspresi kebudayaan masyarakatnya. Amerika dan Eropa memiliki gedung untuk konser musik maupun opera dan keberadaan ruang seperti itu sudah menjadi kewajiban untuk dimiliki oleh setiap kota demi memenuhi keadaban publik. China memiliki kesadaran tinggi untuk memajukan industry budaya nasionalnya. Banyak gedung kesenian dan teater yang dibangun. National Grand Theatre Beijing yang diresmikan September 2007 memakan sekitar 3 triliun rupiah. Sebuah angka yang hebat untuk membangun investasi dan menopang eksistensi kebudayaannya. Bahkan Negara tetangga terdekat Indonesia Singapura memiliki gedung konser berskala Internasional.

Yunani yang jauh di masa lampau pun memiliki konsep aphiteater. Minimnya penghargaan ruang budaya di Indonesia pantas untuk terus dikritisi. Budaya kita pun tercerai berai kedalam budaya yang tak tertata tak terbangun. Jangan sampai apa yang tumbuh hanya menggambarkan sebuah culture of masses yang tak tertata sementara jelas apa yang diharapkan dari bangunan kebudayaan nasional Indonesia adalah untuk mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia artinya apa yang belum tertata mesti lebih indah jika tertata tanpa menegasikan keunggulan yang ada didalamnya.

Kalau kita melihat upaya negara-negara lain dalam pembangunan kebudayaannya tentu menjadikan kita berkecil hati -masihkah apa yang menjadi keprihatinan Soe Hok Gie dengan catatannya “kita menjadi pesimis saat melihat realitas bangsa ini” masih harus ada sampai saat ini? Untuk pemeliharaan Pusat Dokumentasi Sastra saja tidak ada itikad baik apalagi untuk membangun gedung untuk konser yang berskala internasional. Pengkritisan yang dilakukan para penggiat sastra di Indonesia dan para seniman pantas dihargai sebagai bagian dalam menyangga keseimbangan publik. Memang diperlukan manusia-manusia kreatif dan kritis di negeri ini agar bopeng-bopeng terobati dan tidak terus menjadi.

Penulis: Janu Wijayanto (Peneliti Public Institute Jakarta)

Sabtu, 19 Maret 2011

#koinsastra Selamatkan PD Sastra HB Jassin

salingsilang.com
Sabtu, 19 Maret 2011



Semalaman di BBM Group tersiar kabar bahwa Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin terancam tutup. Penyebabnya pengelola kekurangan dana.
PDS HB Jassin, didirikan 34 tahun lalu, oleh  Hans Bague Jassin, seorang pengarang,penyunting, dan kritikus sastra ternama dari Indonesia. Pria kelahiran Gorontalo, Sulawesi Utara, 13 Juli 1917  ini menyimpan karya sastra mulai dari tahun 1890-an hingga akhir hayatnya tahun 2000.
Inilah pusat dokumentasi sastra satu-satunya di Indonesia yang lengkap. Setidaknya ada sekitar 17.000 judul karya sastra fiksi, 12.000 judul nonfiksi, ribuan buku referensi, naskah drama, biografi, kliping, makalah, skripsi atau disertasi. Ada juga 50.000-an eksemplar guntingan koran yang memuat artikel sastra berupa cerita pendek atau puisi. Selain itu juga ada tulisan tangan Chairil Anwar dan Amir Hamzah.

Buku sastra yang ada di situ juga sangat bernilai. Ada buku satra Melayu Tionghoa yang ditulis dengan bahasa Melayu Pasar. Konon, buku tersebut lebih tua umurnya dari karya sastra Balai Pustaka.
PDS yang bertempat di lantai 2 Taman Ismail Marzuki ini dibuka untuk umum, setiap hari keja: Senin hingga Jumat pukul 09.00 hingga 15.00, secara gratis. Mungkin karena rendahnya apresiasi sastra oleh masyarakat, tempat ini nampak sepi. Kebanyakan yang datang adalah siswa, mahasiswa yang kebetulan mendapat tugas, atau para peneliti.
Kehidupan PDS selama ini ditopang oleh subsidi Pemda DKI, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Diknas, serta donatur beberapa pribadi.
PDS terancam tutup setelah Pemda DKI memutuskan untuk mengurangi subsidi. Dana subsidi Pemda selama ini Rp 300 juta pertahun. Namun sejak tahun lalu sudah menyusut, menjadi Rp 164 juta. Nah  Januari lalu keluar SK baru Pemda DKI hanya memberi Rp 50 juta per tahun.
Ini sangat ironis, mengingat DKI adalah salah satu provinsi terkaya di negeri ini. Di zama Gubernur Ali Sadikin, DKI bisa menganggarkan di APBD untuk pengembangan kesenian termasuk sastra. Taman Ismail Marzuki adalah salah satu buktinya. Namun rupanya Gubernur DKI Fauzi Bowo yang berpendidikan luar negeri lebih akrab dengan Goethe Institute.
Lalu haruskah sedih dan marah mencerna informasi tentang menyusutnya subsidi Pemda untuk PDS tersebut? Tak perlu. Lakukan tindakan nyata yang bisa membantu dan menyelamatkan PDS HB Jassin. Beberapa kativis sosial media berinisiasi untuk membuat gerakan #koinsastra. Ini tentu menjadi tantangan nyata bagi netizen yang beberapa hari lalu melakukan gerakan #17an: Satu Tujuan Menjadikan Indonesia yang lebih baik.
Indonesia yang lebih baik, adalah Indonesia yang bisa bergotongroyong menjaga karya budaya bangsa, termasuk menyelamatkan PDS HB Jassin.
Terus gerakannya seperti apa? Silakan dishare inisiatif yang tujuannya satu: membantu PDS HB Jassin. Mengumpulkan koin? Boleh saja. Mencari donasi pada pribadi dan perusahaan yang peduli? Gak masalah. Membuat pertunjukan musikali sastra, yang hasilnya disumbangkan seluruhnya pada PDS? Kenapa tidak..........
Membiarkan PDS HB Jassin tutup, sama halnya membiarkan orang menghapus catatan peradaban.