Senin, 21 Maret 2011

Mahasiswa Galang Koin Sastra PDS HB Jassin

Hasan Kurniawan - Okezone 
Senin, 21 Maret 2011 19:53 wib
TANGERANG- Puluhan mahasiswa pecinta sastra Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), menggelar aksi unjukrasa menolak pengurangan subsudi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin.
Dalam aksinya, mahasiswa menggalang koin sastra untuk membantu kegiatan operasional PDS HB Jassin. Mereka juga membacakan puisi karya Chairil Anwar, orasi dan membentangkan poster serta spanduk.

"Begitulah, tuan dan puan. Setelah bom buku, kini pemerintah kita menelantarkan buku," ungkap Arlian Buana, mahasiswa Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UIN, dalam orasinya, di depan Fakultas Tarbiah, Senin (21/3/2011).

Untuk diketahui, Pemerintah DKI Jakarta memberi dana subsidi untuk kegiatan operasional PDS HB Jassin sebesar Rp360 juta, berkurang Rp60 juta jadi Rp300 juta, berkurang lagi menjadi Rp164 juta dan akhirnya menjadi Rp50 juta.

"Mempertahankan PDS HB Jassin, berarti mempertahankan bagian sejarah dan kebudayaan bangsa," terangnya.

Selain menggalang koin sastra, para pecinta sastra juga menggalang dukungan lewat akun jejaring sosial Facebook dan berbagai tempat lainnya.

"Gerakan koin sastra merupakan wujud mimpi anak bangsa untuk memiliki pusat dokumentasi sastra yang terus bernyawa dan tumbuh," jelasnya.

PDS HB Jassin merupakan pengarsipan sastra Indonesia paling lengkap. Dirintis oleh HB Jassin dengan dana pribadi dan dibuka untuk umum pada 1930. Oleh Gubernur DKI Ali Sadikin, PDS HB Jassin menempati sebagian gedung di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta.

"Koin sastra mengekspresikan gugatan kita terhadap pembiaran nasib kebudayaan dan sastra kita yang diambang kebangkrutan," terangnya.
(ugo)

Kurang Dana, PDS HB Jassin Bakal Ditutup?

Senin, 21 Maret 2011 17:48 wib


JAKARTA - Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin terancam tutup. Pasalnya hibah biaya operasional yang diberikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta semakin berkurang.

Dalam anggaran PDS HB Jassin 2011, Pemprov hanya memberikan anggaran sebesar Rp50 juta. Hal itu termuat dalam SK (Surat Keputusan) Gubernur DKI Jakarta No. SK IV 215 tertanggal 16 Februari 2011 yang ditandatangani langsung oleh Fauzi Bowo.

Padahal sebelumnya, anggaran yang diperoleh sebesar Rp300 juta per tahun. Namun, terhitung 2010, anggaran dipangkas menjadi Rp164 juta per tahun.

Namun, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengaku tidak mengetahui hal tersebut. Menurutnya semua keputusannya tertuang dalam SK. Namun, dirinya tidak secara detail tahu setiap SK yang jumlahnya banyak. 

"Memang dari SK Gubernur, tapi saya tidak tahu. Begini, saya bertolak dari kenyataan bahwa anggaran yang diberikan untuk pusat dokumentasi PDS HB Jassin tidak turun. Jadi, memang saya tidak memeriksa satu persatu rincian SK Gubernur tadi," jelas Fauzi.

Menurut gubernur strukturalisasi pengelolaan PDS HB Jassin saat ini dinilai tidak tepat. Menurutnya, PDS HB Jassin ini akan lebih tepat diletakkan di bawah Badan Perpustakaan dan Arsip DKI Jakarta.

Menurutnya, jika di bawah naungan badan Perpustaan dan Arsip DKI Jakarta, maka perpustakaan itu akan menjadi komponen utama dari badan tersebut. Namun, jika masih tetap berada di bawah Dinas Kebudayaan, dikhawatirkan perpustakaan itu seolah hanya sebuah sanggar.

Untuk memerhatikan perpustakaan tersebut, Foke meminta Sekretaris Daerah (Sekda) untuk mempelajari dan menempatkan perpustakaan itu pada tempat yang tepat dan proporsional. Hal itu dilakukan agar perpustakaan itu mendapat perhatian lebih baik lagi.

"Kita pun tidak ingin pusat dokumentasi ini mendapat prioritas yang rendah, saya juga tidak tahu kalau anggarannya turun," katanya.

PDS HB Jassin merupakan tempat pendokumentasian arsip kesusastraan nasional Indonesia yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Pusat dokumentasi ini didirikan oleh H.B. Jassin pada tanggal 28 Juni 1976.

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin ini dimulai sebagai dokumentasi pribadi HB Jassin, sang tokoh sastra yang dijuluki sebagai Paus Sastra Indonesia. Jassin menggeluti pendokumentasian sastra ini dengan dana dan tenaga yang serba terbatas sejak ia mengembangkan minatnya akan dunia sastra dan pustaka pada tahun 1930-an, ketika usianya belum lagi 30 tahun.

Dokumentasinya ini menggugah perhatian Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang akhirnya turun tangan untuk ikut memelihara kelestariannya agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang. Karena itulah Ali Sadikin kemudian memberikan tempat kepada HB Jassin di salah satu gedung yang terdapat di Taman Ismail Marzuki sebagai lokasi Pusat Dokumentasi ini.

Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin didirikan pada 28 Juni 1976. Sejak tahun anggaran 1977/1978, Pemerintah Daerah DKI Jakarta memberikan subsidi kepada yayasan ini yang kemudian berganti nama menjadi Pusat Dokumentasi Sastra. Sementara itu, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan juga ikut mendukung pembiayaan lembaga ini tahun anggaran l983/l984. Ada pula sumbangan-sumbangan lain dari para donatur tidak tetap.

Pada Mei 2006, pusat dokumentasi ini mempunyai koleksi sebanyak 48.876 dalam bentuk buku-buku fiksi, non-fiksi, naskah drama, biografi dan foto-foto pengarang, kliping, makalah, skripsi, disertasi, rekaman suara, dan rekaman video. Di sini disimpan pula sejumlah surat pribadi dari berbagai kalangan seniman dan sastrawan, seperti Nh Dini, Ayip Rosidi, dan Iwan Simatupang.

PDS HB Jassin memberikan pelayanan kepada para pengunjung perpustakaan dan siapa saja yang ingin mencari informasi yang terkait dengan dunia sastra, baik para guru, mahasiswa, sastrawan, di luar Jakarta yang sedang mengerjakan skripsi ataupun disertasi.
(Tedy Achmad/Koran SI/hri)

Minggu, 20 Maret 2011

Yayasan Minta Dana Rp 1 M untuk Kelola PDS HB Jassin

Senin, 21/03/2011 19:08 WIB
Lia Harahap - detikNews


Dokumentasi Sastra (PDS) tetap hidup, Yayasan HB Jassin berharap Pemprov DKI menyediakan anggaran lebih kurang Rp 1 milliar. Karena, anggaran Rp 50 juta yang saat ini disediakan belum bisa mencukupi biaya operasional.

"Jika hanya Rp 50 juta saja maka akan tutup, maka itu kita mengusulkan dana hibah sebesar Rp 1 milliar," ujar Ketua Dewan Pembinan Yayasan PDS HB Jassin, Ajip Rosidi, saat mendapat kunjungan dari Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, di Gedung PDS HB Jassin di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Senin (21/3/2011).

Ajip mengatakan, saat ini PDS HB Jassin hanya memeroleh bantuan dana dari Pemprov DKI. Maka itu, dengan dana yang pas-pas an, tidak akan mungkin untuk mengelola PDS HB Jassin dengan baik.

Nilai Rp 1 milliar itu, lanjut Ajip, nantinya akan dialokasikan untuk beberapa bagian. Antara lain untuk kegiatan pendokumentasian dokumen Rp 275 juta, untuk pembelian buku dan langganan surat kabar dan majalah Rp 250 juta, untuk kegiatan pendokumentasian foto pengarang dan foto peristiwa sastra  Rp 100 juta, untuk peningkatan fasilitas komputerisasi dan internet sebesar Rp 95 juta dan pembuatan kliping sebesar Rp 75 juta.

Selain itu untuk kegiatan perawatan buku terdiri dari fumigasi (anti jamur) dibutuhkan anggaran sebesar Rp 60 juta, perawatan fasilitas pendingin Rp 50 juta, dan penjilidan Rp 30 juta, penguatan jaringan yang ditempuh melalui penyelenggaraan diskusi Rp 40 juta dan sisanya digunakan untuk biaya transportasi.

Saat ini, lanjut Ajip, PDS HB Jassin menyimpan 50 ribu dokumen, 20 ribu diantaranya sudah dalam proses pengklasifikasian. Dikatakan Ajib, jika tidak ada penambahan dana hibah, pihaknya akan menyerahkan Yayasan PDS HB Jassin ke Dewan Kesenian Jakarta untuk dikelola.

"Jika diserahkan ke lembaga lain dikhawatirkan jatuh ke orang yang tidak mengerti dokumentasi sastra. Karena biasanya mereka diangkat berdasarkan kedudukan bukan keahlian," jelasnya.

Ajip menyayangkan, anggaran untuk PDS HB Jassin, setiap tahunnya menurun dari sejak tahun 2003. Tahun 2003, yayasan memperoleh dana hibah sebesar Rp 500 juta, namun pada tahun 2007 dana tersebut turun menjadi Rp 350 juta.

"Bahkan di tahun 2009 kembali turun menjadi Rp 175 juta dan pada 2010 sebesar Rp 165 juta. Hingga akhirnya tahun ini menjadi Rp 50 juta," sesal pria berkacamata ini.

Saat ini Yayasan PDS HB Jassin memiliki 14 pegawai, 5 di antaranya sudah PNS. Sedangkan sisanya masih non-PNS. "Dana simpanan kami sudah habis," imbuhnya.

Menanggapi permintaan yayasan, Fauzi Bowo belum bisa memastikan apakah menyetujui atau tidak mengucurkan dana sebesar itu. Menurut Foke, semua akan dibahas dan dipastikan nilainya tidak seminim yang ada saat ini.

"Mudah-mudah (anggarannya 1 milliar), yang jelas kita akan revisi SK Gubernur nomor 25 tahun 2011," kata Fauzi.

(lia/lrn)

Gerakan Koin Sastra untuk Selamatkan PDS HB Jassin Menguak Muka Bopeng Kebudayaan Nasional



20 March 2011 | 14:29

Negara yang berbudayaan selalu menghargai pengetahuan dan karya sastra. Semakin tinggi kebudayaan suatu bangsa tentu semakin tinggi derajat kemanusiaannya dan tentu semakin menghargai arti penting sebuah karya. Terlebih karya pengetahuan dan sastra yang memuat unsur keindahan sebagai cermin kehalusan sebuah masyarakat. Membicarakan hal ini sejenak terlintas tentang film berjudul Agora yang dibintangi aktris cakep Rachel Weisz tentang kisah hidup filsuf perempuan Hypathia seorang sarjana Alexandria Yunani. Tergambar sebuah kisah cinta yang indah serta keberanian seorang Hypathia yang mencintai pengetahuan dan sastra. Hypathia menyelamatkan koleksi perpustakaan dan buku-buku serta kecintaannya yang mendalam pada pengetahuan memberikan impresi yang indah bagi pecinta pengetahuan dan manusia-manusia yang menggandrungi semangat pencerahan. Seorang penulis sejarah Socrates Scholasticus menjelaskan Hypathia sebagai seorang wanita yang bijaksana dan dihormati di Alexandria, ia seorang putri dari filsuf Theon yang mengembangkan sastra dan ilmu pengetahuan. Apa yang dilakukannya membuat semua orang mengaguminya berdasarkan pada martabat luar biasa dan kebajikan. Ia yang menyelamatkan koleksi dengan nyawanya.

Apa yang hendak disampaikan disini bukan berniat untuk terlalu jauh menarik sebuah persoalan namun sebagai upaya untuk mencoba membawa persoalan dalam mencari kejernihan atas persoalan itu. Permenungan menjadi upaya untuk mencari kejernihan seperti itu. Sebagaimana apa yang disampaikan oleh filsuf besar Yunani Socrates bahwa hidup yang tidak ditinjau ulang tidak pantas untuk dihidupi. Gambaran apa yang ada dalam film yang menceritakan kisah perjalanan Hypathia dalam melindungi koleksi perpustakaan karena kecintaannya pada sastra dan pengetahuan itu tiba-tiba terlintas saat sekarang ramai kita dihadapkan pada persoalan yang hampir mirip meski tidak sama. Persoalan dimana pengetahuan dan sastra terpinggirkan dari kehidupan berkebudayaan nasional di Indonesia. Cerita Hypathia itu terlintas seiring munculnya gerakan yang dilakukan para para penggiat sastra di Indonesia yang membuat Gerakan Koin Untuk Menyelamatkan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.

Sebuah gerakan yang mencerminkan keberpihakan pencerahan dan nalar kritis. Hingga saat membayangkan gerakan yang dilakukan ini tiba-tiba saja terbayang wajah cantik Hypathia di film Agora. O, senyum Hypathia untuk para penyelamat pustaka.

Apa yang terjadi dibalik fenomena seperti ini? Berkurangnya perhatian pemerintah untuk perawatan hasil kebudayaan nasional semakin nampak jelas dalam terancam ditutupnya Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin akibat kekurangan biaya untuk operasional dan perawatan koleksi sastra disitu. Hal yang lebih pantas disebut sebagai muka bopeng kebudayaan nasional. Padahal kebudayaan seharusnya merupakan proses yang terus secara aktif dibangun (open ended) yang tentu menuntut biaya yang lebih besar bukan justru terpinggirkan.

Muka Bopeng Kebudayaan Nasional

Jelas di dalam Undang-Undang Dasar 1945 sebagai acuan bagi tata kehidupan bernegara dalam hal kebudayaan menempatkan kebudayaan sebagai perihal penting yang harus dimajukan oleh Negara (pemerintah) bukan sebaliknya menjadi tersingkir dari hal lain. Pada Pasal 32, UUD 45, sebelum diamandemen menjelaskan Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Pengertian kebudayaan nasional Indonesia ini, dijelaskan dalam penjelasan tentang Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yaitu kebudayaan bangsa. Kebudayaan bangsa dijelaskan adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi-daya rakyat Indonesia seluruhnya yaitu kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

Karya sebagai bagian dari upaya pembangunan kebudayaan nasional juga mendapatkan payung perlindungan. Tentu ini menjadi mandat bagi pemerintah baik Pemerintah Nasional maupun Pemerintah Daerah untuk -tanpa harus diingatkan- seyogyanya sudah memegang teguh usaha memajukan kebudayaan nasional. Tanpa harus disuruh sudah harus memperhatikan untuk mengalokasikan anggarannya guna pelestarian koleksi dan pengembangan fasilitas yang mendukung kerja kebudayaan. Namun kenyataan yang terjadi ternyata jauh panggang dari api. Ekspektasi itu ternyata tidak terjawab. Apa yang dibangun dan diusahakan pemerintah menjadi tidak mencerminkan pembangunan yang berorientasi pada kepentingan public (public centered development).

Pusat dokumentasi H.B. Jassin seharusnya dikembangkan lebih dengan dukungan pemerintah untuk lebih memperhatikan perkembangan sastra dan kebudayaan nasional lebih maju serta berkembangnya ruang publik. Koleksi sastra Indonesia modern banyak disimpan di pusat dokumentasi tersebut. Dari berbagai macam karya sastra modern yang terdokumentasikan disitu jelas merupakan kekayaan publik terkait karya sastra. Minimnya subsidi biaya pemerintah untuk PDS HB Jassin menunjukkan kurangnya penghargaan pemerintah terhadap karya anak bangsa. Aset nasional untuk memelihara eksistensi budaya nasional terancam gulung tikar menjadi cermin yang menunjukkan gambar muka bopeng dari kebudayaan nasional di Indonesia.

Bopeng-bopeng semakin banyak terlihat dan tentu lebih banyak lagi jika dibiarkan terus tumbuh. Bopeng kebudayaan juga Nampak pada minimnya ruang publik untuk diselenggarakannya aktivitas kreasi dan ekspresi budaya. Sementara berkaca pada perkembangan negara lain begitu memperhatikan ruang publik untuk laku kebudayaan masyarakatnya. Negara-negara yang maju mutu kemanusiaannya selalu tentu membangun ruang publik untuk ekspresi kebudayaan masyarakatnya. Amerika dan Eropa memiliki gedung untuk konser musik maupun opera dan keberadaan ruang seperti itu sudah menjadi kewajiban untuk dimiliki oleh setiap kota demi memenuhi keadaban publik. China memiliki kesadaran tinggi untuk memajukan industry budaya nasionalnya. Banyak gedung kesenian dan teater yang dibangun. National Grand Theatre Beijing yang diresmikan September 2007 memakan sekitar 3 triliun rupiah. Sebuah angka yang hebat untuk membangun investasi dan menopang eksistensi kebudayaannya. Bahkan Negara tetangga terdekat Indonesia Singapura memiliki gedung konser berskala Internasional.

Yunani yang jauh di masa lampau pun memiliki konsep aphiteater. Minimnya penghargaan ruang budaya di Indonesia pantas untuk terus dikritisi. Budaya kita pun tercerai berai kedalam budaya yang tak tertata tak terbangun. Jangan sampai apa yang tumbuh hanya menggambarkan sebuah culture of masses yang tak tertata sementara jelas apa yang diharapkan dari bangunan kebudayaan nasional Indonesia adalah untuk mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia artinya apa yang belum tertata mesti lebih indah jika tertata tanpa menegasikan keunggulan yang ada didalamnya.

Kalau kita melihat upaya negara-negara lain dalam pembangunan kebudayaannya tentu menjadikan kita berkecil hati -masihkah apa yang menjadi keprihatinan Soe Hok Gie dengan catatannya “kita menjadi pesimis saat melihat realitas bangsa ini” masih harus ada sampai saat ini? Untuk pemeliharaan Pusat Dokumentasi Sastra saja tidak ada itikad baik apalagi untuk membangun gedung untuk konser yang berskala internasional. Pengkritisan yang dilakukan para penggiat sastra di Indonesia dan para seniman pantas dihargai sebagai bagian dalam menyangga keseimbangan publik. Memang diperlukan manusia-manusia kreatif dan kritis di negeri ini agar bopeng-bopeng terobati dan tidak terus menjadi.

Penulis: Janu Wijayanto (Peneliti Public Institute Jakarta)

Sabtu, 19 Maret 2011

#koinsastra Selamatkan PD Sastra HB Jassin

salingsilang.com
Sabtu, 19 Maret 2011



Semalaman di BBM Group tersiar kabar bahwa Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin terancam tutup. Penyebabnya pengelola kekurangan dana.
PDS HB Jassin, didirikan 34 tahun lalu, oleh  Hans Bague Jassin, seorang pengarang,penyunting, dan kritikus sastra ternama dari Indonesia. Pria kelahiran Gorontalo, Sulawesi Utara, 13 Juli 1917  ini menyimpan karya sastra mulai dari tahun 1890-an hingga akhir hayatnya tahun 2000.
Inilah pusat dokumentasi sastra satu-satunya di Indonesia yang lengkap. Setidaknya ada sekitar 17.000 judul karya sastra fiksi, 12.000 judul nonfiksi, ribuan buku referensi, naskah drama, biografi, kliping, makalah, skripsi atau disertasi. Ada juga 50.000-an eksemplar guntingan koran yang memuat artikel sastra berupa cerita pendek atau puisi. Selain itu juga ada tulisan tangan Chairil Anwar dan Amir Hamzah.

Buku sastra yang ada di situ juga sangat bernilai. Ada buku satra Melayu Tionghoa yang ditulis dengan bahasa Melayu Pasar. Konon, buku tersebut lebih tua umurnya dari karya sastra Balai Pustaka.
PDS yang bertempat di lantai 2 Taman Ismail Marzuki ini dibuka untuk umum, setiap hari keja: Senin hingga Jumat pukul 09.00 hingga 15.00, secara gratis. Mungkin karena rendahnya apresiasi sastra oleh masyarakat, tempat ini nampak sepi. Kebanyakan yang datang adalah siswa, mahasiswa yang kebetulan mendapat tugas, atau para peneliti.
Kehidupan PDS selama ini ditopang oleh subsidi Pemda DKI, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Diknas, serta donatur beberapa pribadi.
PDS terancam tutup setelah Pemda DKI memutuskan untuk mengurangi subsidi. Dana subsidi Pemda selama ini Rp 300 juta pertahun. Namun sejak tahun lalu sudah menyusut, menjadi Rp 164 juta. Nah  Januari lalu keluar SK baru Pemda DKI hanya memberi Rp 50 juta per tahun.
Ini sangat ironis, mengingat DKI adalah salah satu provinsi terkaya di negeri ini. Di zama Gubernur Ali Sadikin, DKI bisa menganggarkan di APBD untuk pengembangan kesenian termasuk sastra. Taman Ismail Marzuki adalah salah satu buktinya. Namun rupanya Gubernur DKI Fauzi Bowo yang berpendidikan luar negeri lebih akrab dengan Goethe Institute.
Lalu haruskah sedih dan marah mencerna informasi tentang menyusutnya subsidi Pemda untuk PDS tersebut? Tak perlu. Lakukan tindakan nyata yang bisa membantu dan menyelamatkan PDS HB Jassin. Beberapa kativis sosial media berinisiasi untuk membuat gerakan #koinsastra. Ini tentu menjadi tantangan nyata bagi netizen yang beberapa hari lalu melakukan gerakan #17an: Satu Tujuan Menjadikan Indonesia yang lebih baik.
Indonesia yang lebih baik, adalah Indonesia yang bisa bergotongroyong menjaga karya budaya bangsa, termasuk menyelamatkan PDS HB Jassin.
Terus gerakannya seperti apa? Silakan dishare inisiatif yang tujuannya satu: membantu PDS HB Jassin. Mengumpulkan koin? Boleh saja. Mencari donasi pada pribadi dan perusahaan yang peduli? Gak masalah. Membuat pertunjukan musikali sastra, yang hasilnya disumbangkan seluruhnya pada PDS? Kenapa tidak..........
Membiarkan PDS HB Jassin tutup, sama halnya membiarkan orang menghapus catatan peradaban.

Rabu, 09 Maret 2011

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin


Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin adalah tempat pendokumentasian arsip kesusastraan nasional Indonesia yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Pusat dokumentasi ini didirikan oleh H.B. Jassin pada tanggal 28 Juni 1976.

LATAR BELAKANG

Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin ini dimulai sebagai dokumentasi pribadi H.B. Jassin, sang tokoh sastra yang dijuluki sebagai Paus Sastra Indonesia. Jassin menggeluti pendokumentasian sastra ini dengan dana dan tenaga yang serba terbatas sejak ia mengembangkan minatnya akan dunia sastra dan pustaka pada tahun 1930-an, ketika usianya belum lagi 30 tahun.

Dokumentasinya ini menggugah perhatian Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang akhirnya turun tangan untuk ikut memelihara kelestariannya agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang. Karena itulah Ali Sadikin kemudian memberikan tempat kepada H.B. Jassin di salah satu gedung yang terdapat di Taman Ismail Marzuki sebagai lokasi Pusat Dokumentasi ini.

Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin didirikan pada 28 Juni 1976. Sejak tahun anggaran 1977/1978, Pemerintah Daerah DKI Jakarta memberikan subsidi kepada yayasan ini yang kemudian berganti nama menjadi Pusat Dokumentasi Sastra. Sementara itu, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan juga ikut mendukung pembiayaan lembaga ini tahun anggaran l983/l984. Ada pula sumbangan-sumbangan lain dari para donatur tidak tetap.

KOLEKSI

Pada Mei 2006, pusat dokumentasi ini mempunyai koleksi sebanyak 48.876 dalam bentuk buku-buku fiksi, non-fiksi, naskah drama, biografi dan foto-foto pengarang, kliping, makalah, skripsi, disertasi, rekaman suara, dan rekaman video. Di sini disimpan pula sejumlah surat pribadi dari berbagai kalangan seniman dan sastrawan, seperti Nh. Dini, Ayip Rosidi dan Iwan Simatupang

Selasa, 08 Maret 2011

Konser Koin Sastra untuk PDS HB Jassin

Yudhi Wibowo
22/03/2011 07:05


Liputan6.com, Jakarta: Komunitas pecinta sastra yang terdiri dari musisi, penyair, penulis, hingga mahasiswa menggelar sebuah konser di halaman Bentara Budaya Jakarta, Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (13/4) malam. Konser bertajuk Gerakan Koin Sastra ini untuk penggalangan dana bagi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin yang terancam tutup. 

Kolaborasi unik Dewa Budjaka, Dwiki Dharmawan, pesiden Soimah, dan dalang edan Sudjiwo Tedjo, khusus tampil dalam konser ini. Kolaborasi mereka memberi hiburan tersendiri bagi penonton.

Gerakan Koin Sastra menyerahkan dana sebesar Rp 110 juta, 11 perangkat komputer, dua unit printer, serta empat scaner senilai Rp 43 juta untuk PDS HB Jassin. 

PDS HB Jassin didirikan pada 1977 oleh sastrawan HB Jassin dan menyimpan sekitar 50 ribu dokumen sastra Indonesia modern yang digunakan untuk penelitian kebudayaan serta sastra dalam maupun luar negeri. Namun, PDS HB Jassin terancam bangkut lantaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memangkas anggaran hingga tersisa Rp 50 juta per tahun